Selamat datang kawan,
mari bercinta ala sang pemimpi...

<< January 2012 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31

Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x




KeluargaKu
  • peri telaga
  • emma A.K
  • mei-chan darmawan
  • brOchan
  • darma trinarta
  • kawan laba
  • kanda yusran
  • kanda bento
  • kanda patang
  • iqo
  • uwi nya mas
  • ichamaniest
  • azumichan
  • hamba Allah
  • kk ku sayang
  • k jimut
  • great toqie
  • maddie vomit
  • weyeketeng
  • abang

  • If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



    rss feed



     
    Nov 24, 2008
    Bye Kawans...
    I'm lost,
    As soon as I know I will loose you
    soon!

    Kawans, selamat datang di pintu gerbang perjuangan baru
    Kumohon, berjanjilah,
    Kumohon, bersumpahlah,
    Ketika kalian mulai melangkah pergi,
    Kumohon,
    Jangan pernah hapus jejakku dalam goresan tinta hidupmu
    Sekasar apapun tuturku,
    seburuk apapun lakuku,

    setiap menunggu kalian di depan ruang "keramat" itu
    rasa takut menggerayangiku
    kalian akan pergi
    pergi dan melupakan kenangan itu,

    takut akan rasa sepi.
    dan tersadar,
    I'm nothing without you kawans...


    Posted at 06:45 pm by elektrakid
    Make a comment  

     
    Aug 10, 2008
    Datangka Lagi...
    Wah, sudah lama juga ya da nulis-nulis, jangankan di blog, proposal untuk skripsiku saja masih belum beres. "Makanya fokus!", kata rido. Iya sih selama ini agak-agak kurang fokus sudah berapa bulan tenggelam dalm nikmatnya kemalasan. Salah satu akibatnya pas tanggal sati Agustus dinda Zahrah memutuskan untuk meninggalkanku. Sudah bosan mungkin melihat kakaknya bermalasan di rumah atau tiap hari pulang dari kampus tanpa membawa hasil. mungkin dia ingin seperti anak-anak lain, kalo kakanya pulang ada oleh-oleh mainan untuknya dari hasil keringat kakaknya. Maaf ya dek,,,

    Eh, kemarin genap 40 harinya dia meninggalkanku lho. Tidak pernah sekali pun dia menyapaku sekalipun walau hanya dalam mimpi. Sedihnya...mungkin karena dia sangat kecewa dengan segala tingkahku ya... Yup, para malaikat tidak mungkin membiarkan anak sesuci dia berhubungan lagi dengan pendosa seperti saya, bahkan untuk sebuah sapaan. Kadang-kadang saya pikir, sakit yang dialaminya itu karena imbas segala dosa yang kuperbuat. Mungkin saja, makanya Zahrah tidak diijinkan menelp ato kirim sms tentang kegiatannya sekarang. Hiks...

    Rinduka dek...

    Pas menengok sedikit ke blog ku tadi, kaget juga melihat shout box-ku. Bukan lagi gambar icon-icon penuh bom, tembakan, ledakan, dan kuda yang lagi buang feces, tapi yang ada malah salam rindu dan ajakan bermain dari orang-orang yang juga sudah lama kurindukan. Mereka sudah jauh melangkah, saya kejar sambil jogging ya....perlahan tapi menyehatkan lho...hehe,,

    Sekarang gadis out of focus ini sedang berjuang menajamkan rana pemikirannya. Meski terkadang pandangannya masih sedikit blur tapi sedikit demi sedikit dperbaikilah. Masih banyak baut-baut yang perlu dikencangkan. Lagi mencari angel yang tepat untuk memulai. Doakan ya....

    Posted at 03:29 pm by elektrakid
    Make a comment  

     
    Jun 18, 2008
    Dear God
    A lonely road, crossed another cold state line
    Miles away from those I love purpose hard to find
    While I recall all the words you spoke to me
    Can't help but wish that I was there
    Back where I'd love to be, oh yeah

    Dear God the only thing I ask of you is
    to hold her when I'm not around,
    when I'm much too far away
    We all need that person who can be true to you
    But I left her when I found her
    And now I wish I'd stayed
    'Cause I'm lonely and I'm tired
    I'm missing you again oh no
    Once again

    There's nothing here for me on this barren road
    There's no one here while the city sleeps
    and all the shops are closed
    Can't help but think of the times I've had with you
    Pictures and some memories will have to help me through, oh yeah

    Dear God the only thing I ask of you is
    to hold her when I'm not around,
    when I'm much too far away
    We all need that person who can be true to you
    I left her when I found her
    And now I wish I'd stayed
    'Cause I'm lonely and I'm tired
    I'm missing you again oh no
    Once again
    Some search, never finding a way
    Before long, they waste away
    I found you, something told me to stay
    I gave in, to selfish ways
    And how I miss someone to hold
    when hope begins to fade...

    A lonely road, crossed another cold state line
    Miles away from those I love purpose hard to find

    Dear God the only thing I ask of you is
    to hold her when I'm not around,
    when I'm much too far away
    We all need the person who can be true to you
    I left her when I found her
    And now I wish I'd stayed
    'Cause I'm lonely and I'm tired
    I'm missing you again oh no
    Once again

    Posted at 01:58 pm by elektrakid
    Make a comment  

     
    May 12, 2008
    [.....]
    Mereka duduk di panggung seminar, dan aku mulai menulis…


    Posted at 02:16 pm by elektrakid
    Make a comment  

    Semalam mereka bermain diimajiku
    Bapak, aku menyesal tak sempat mengantarmu pergi…Teringat saat terakhir kali kumelihatmu. Saat itu kau sedang tidak sehat, bintik-bintik merah bermunculan di kedua tangan dan kakimu. Kau terbaring di sofa di ruangan ketua jurusan. Lalu aku datang untuk berpamitan, merantau selama dua bulan. Sambil memijat-mijat kakimu, seperti biasa petuah-petuah itu keluar dari bibirmu, dan aku hanya bisa mengangguk dan mengiyakan. Kau adalah sumber dari segala spirit dalam diriku, semangat belajarmu yang tak pernah surut hanya karena hambatan fisik, sindirian-sindiran halusmu ketika lagi-lagi kuberbuat kejahatan, dan sentuhan hangat tanganmu dikepalaku petanda kasih sayangmu yang selalu tercurah untukku. Kau yang baik, akan selalu mendapatkan yang terbaik…aku merindumu Pak…

    Kakak yang selalu bertopeng, walau hanya sesaat, kau pernah menarikku dari lubang yang dalam. Menjadi sandaran ketika kurapuh memberi beberapa warna dalam hidupku. Seperti jalangkung datang tak diundang, pergi tak diantar. Lucu juga ketika mengingat kejahatan-kejahatan kecil yang kita lakukan, tapi kenangan itulah yang meninggalkan jejak di hatiku. Kapan ya kita akan bertemu lagi,  semangat k, bulan tujuh sudah dekat. Akupun di sini sedang berjuang dengan pelampungku, ok!

    Dia menyebut dirinya virus. Tidak sampai seminggu mungkin dia kembali menjejakkan kaki di xtra setelah kepergiannya yang misterius beberapa bulan lalu. Dan kedatangannya kali ini mungkin tidak sesuai kehendaknya, terlihat dari caranya bersikap, dia tidak betah berada di warnet, ntah Karena dia tidak suka dengan apa yang harus dia lakukan, atau tidak cocok dengan orang-orang di ruang ini, atau karena ruangannya yang terlalu menyesakkan baginya? Yang jelas dia sudah kujadikan sahabat sejak pertama bersua, sahabat sebelah tangan mungkin, karena dia orang yang bebas dan tidak terlihat mau menjalin persahabatan dengan orang yang sangat jarang ditemuinya ini. Tapi kali ini saya sedikit memaksa, dapapa kan? Soalnya dirimu selalu menebar aura-aura kebaikanmu padaku, dan aku suka. Dan mala mini, seperti dua spirit yang kuceritakan sebelumnya, aku merindukanmu…  


    Posted at 02:04 pm by elektrakid
    Make a comment  

     
    May 11, 2008
    Aura positif itu bernama " Sahabat"
    Tetesan keringat membasahi pipi,jidat, dan telapak tanganku. Kucoba terus mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan bodoh serta candaan aneh untuk menghilangkan ketakutan. Mba wuri yang duduk di jok belakang tak henti-hentinya menyorakkan semangat sambil memeluk tubuhku. Mungkin dalam hatinya dia bertasbih, berharap aku tidak membuat kami harus diiring ke rumah untuk orang-orang sakit karena jiwaku yang sakit dan tiba-tiba memintanya mengajariku naik motor dan memboncengnya, di jalan raya, dari Panakukang ke STIMIK.

                                              
    Hari ini, seperti hari kemarin, diriku masih larut dalam duka ditemani lantunan ayat-ayat suci dari speaker masjid. Sepertinya sudah lama suara ini tidak terdengar oleh hatiku yang terpenjara dan terbuai oleh lagu-lagu cinta yang bodoh. Alunan itu terdengar sangat merdu, merasuk perlahan dalam jiwaku, dan bulir-bulir air menetes di pipi. Jiwa ini menghangat...

    Azan Duhur mengajakku untuk kembali bercinta dengan-Nya. Hanya sembah ini yang bisa kuberikan, sebagai balasan atas segala hina yang telah kulakukan. Aku benar-benar jahat, hanya memuja-Nya ketika dalam duka. Hanya mengingat-Nya ketika terjatuh. Sedangkan Dia tak henti-hentinya menyayangiku. Mungkin selama ini Dia merindukanku sehingga Dia memutuskan menamparku sekeras-kerasnya belakangan ini. Aku kembali, aku kembali merindukan-Mu ya Khalik. Walau dalam wujud tak sempurna, walau dalam kehinaan.

    Setelah sedikit "berolahraga siang", kuutak-atik hapeku, mengirim pesan ke beberapa sahabat, mencoba memanjakan diri dengan nasehat-nasehat dan cambukan cinta mereka, karena kuyakin mereka adalah malaikat-malaikan yang Kau kirimkan untuk menjagaku, menyadarkanku, dan mengiringku kembali dalam kasih-Mu.

    Diantara beberapa sahabat, mba wuri memutuskan untuk mengunjungiku di gubuk hijau karena permintaanku untuk mendengar kisahnya di masa lalu. Sedikit menyesal karena belum sempat kurapikan "kandang kecilku" untuk menymbut kehadirannya, sang malaikat yang tak kenal basa-basi, selalu membidik pada sasaran yang tepat. Pembaringanku masih agak lembab karena bulir air mata, tapi dia tidak peduli dan tetap menjatuhkan tubuhnya dengan santai.

    sekitar setengah jam dia meluangkan waktu untuk berbagi cerita, memberi nasihat, dan membisikkan semangat di telinga dan jiwaku. Setelah itu kupinta dirinya menemaniku ke Bazar buku di belakang PTC, jalan-jalan tanpa arah di Mall, dan numpang di motornya untuk ke xtra. Tidak tahu diri! Itulah hujatan yang pantas kuterima saat itu. Sudah minta ditemani curhat, minta diantar-antar pula. Perasaanku tambah tidak enak ketika mendengrnya menggerutu merasa dimanfaatkan. Maafkan temanmu yang manja dan egois ini...

    Rasa bersalah menuntutku menawarkan jasa memboncengnya sampai ke lorong di samping STIMIK. Awalnya dia menolak karena dia tau naik motor bukanlah keahlianku. Tidak lama perdebatan berlangsung diantara kami, dan dia pun menyerah setelah kuyakinkan "kapanka bisa, kalau kita' tidak percaya sama saya". Terima kasih atas kepercayaanmu...

    Di sela-sela perjalanan kami yang menegangkan itu, terlintas dibenakku pesan-pesan dari beberapa sahabat yang menjawab panggilan manjaku.
    Mungkin orang-orang di pinggir jalan menganggapku gila, senyum-senyum sendiri sambil bermotor. Memoar tentang kegilaan-kegilaan kita saat masih polos (polos? pantaskah kita mnyandangnya?) sedikit-demi sedikit menghibur perjalanan sre itu. Rush yang selalu kacau. Lalu ide gilaku muncul. Dwi, aku punya hadiah untukmu, akan kupanggil kembali para kesatria Rush besok dan kami akan memberimu semangat padamu dan Ridho seperti semangat yang selalu kalian berikan pada kami. Welcome back Rusher!

    Posted at 09:36 pm by elektrakid
    Make a comment  

     
    May 8, 2008
    Tattoo : Self Expression

    Nowadays, even though the way people communicate becomes more modern day by day, nonverbal communication such as symbols still hold an important role in our life. Some people choose to create symbols on their body, called tattoos, to convey their message. Some people are just curious about why other people use their body as a media to convey a message, isn't that painful? Does every symbol on person's body mean something? Or does everybody have the same meaning for the symbols?

    A Symbol is defined by Andrea Mulder-Slater (cited in Hudson, n. d., www.tattoo.about.com) an art history expert, as "a picture or image that tells a story without using words". Symbols were the first way for communicating in an ancient life.  Symbols, in many cultures, are used to record and tell stories.

    Using symbols as a way of communication also happens in today's life. We learn symbols like ancient people did, and later the next generation will also learn about it. Symbols help us in many ways. Sometimes, symbols become more powerful and meaningful than words. Some people believe that tattoos are special symbols in communication, especially because of the pain that must be endured when someone gets a tattoo.

    The phrase, "no pain, no gain" applies to tattooing. Despite the pain, tattooing does not make people feel so suffer. They can manage it. They said it's worth the result, the feeling of satisfaction when the permanent art show up on their skin. Some people say that the pride given by tattoos can subjugate the pain. Others have become accustomed to physical pain, so they don't take it as a big hindrance, while some small groups relish pain. They say "beauty is suffering". (cited in Kang and Jones, 2007) 

    There are many reasons why people get tattoos on their body. Some people say that the part of their body which has a tattoo is an exclusive part. On the other hand, experts in sociology who learned about tattoos and were interested in trends and social patterns, conducted some research about the influence of media, culture, gender, sexuality, and class on tattooing. They found out that people use tattoos to show their own identity, experience or struggle they've overcome in their life, and their view of themselves among others.

    Atikson (2003) states that tattooing has been chiefly influenced by a construction which says that our body represents our personal identity. Definition as a practice of deviant people with a larger cultural concept, also directly affects the social spreading of tattooing.  The alteration in cultural body, tastes, and preferences both can influence or influenced by the professionals, such as artists and their studios. (p.49)

    Tattoos mostly become trend among youth who inspired by artist, such as Angelina Jolie, Lucy Liu, Janet Jackson, Johnny Depp, and Nick Carter, who made tattoos in their body. Tattoos can also become a symbol of rebellion among teenagers who declare freedom and rights over their own bodies. Teenagers may also use tattoos to mark themselves as a part of a school or a community. There was a story (cited in Kang and Jones, 2007) about a group of women who adjudicated to make their university's logo as tattoo.

    Men and women both get tattoos. Men use tattoos more likely to strengthen conventional thought of masculinity; on the other hand, women often oppose and challenge traditional standards of femininity. In interviews with Atkinson, Caroline states (cited in Kang and Jones, 2007), "Women nowadays believe that whatever men can do women can do better, and that includes tattooing." Some people believe the permanence of tattoos show the thoughtful and obvious to other definition of gender, but other women use tattoos to conform the mutual tendency of femininity.

    The tattoos needed by people to express themselves through the surface of their bodies. The body becomes the canvas to shows and memories the struggle between conformity and endurance, strength, individualism, and group membership. The popularity of tattoos is proofing their strength as a media to self-express, mean of communications, social commentary. While in other case, tattoos in some way still followed by misinterpretation of meaning because of the limit of the message.

    Posted at 09:29 pm by elektrakid
    Make a comment  

     
    May 6, 2008
    My Box
    I put my heart in a box
    So nobody can see it
    Nobody can hurt it anymore
    Let it alone...
    It's better to hide now

    Don't open the box now, please...
    Don't touch it
    I just scared to be hurt again
    I just need time, more time...
    To fix what is already broken
    It's hurt me too deep inside
    I feel more safe here
    In my box




    Posted at 03:16 pm by elektrakid
    Make a comment  

     
    Apr 30, 2008
    Laporan Pandangan MataKu…

    Kemarin waktu ikut seminar nasional sempat gugup juga, sudah lama da ikut seminar seperti ini. Berpakaian rapi lagi, pakai sepatu lagi. Padahal sudah terbiasa pakai sandal jepit ke kampus.

    Menginjakkan kaki di gedung PKP, saya disambut oleh barisan kawan-kawan yang memanggilku kakak (aduh malunya, ternyata sudah tua..). setelah pintu masuk berjejer buku-buku dan foto-foto karya teman-teman di sisi kiri dan kanan ruangan layaknya pagar ayu di acara kawinan. Sebenarnya tergiur juga untuk beli buku, tapi mengingat di rumah ada buku wajib penunjang skripsi yang belum kuselesaikan, dan kantongku yang mulai menipis, serta utangku sama Rido, jadinya yah sabarki' hati. Salut sama kawan-kawan pecinta foto, karyanya bagus, lebih berat ke human interest jadi lebih menyentuh karyanya. Walaupun ada sentilan dari Madi kalau memuat foto orang tua, anak kecil, dan orang cacat itu haram hukumnya dalam dunia fotografi, tapi tetap bagus kok. Yang penting kita sudah bisa menghasilkan sebuah karya, kalaupun ada kritik, mungkin bias dipergunakan untuk memperbaiki karya selanjutnya (kaya' kata-kata di tujuan penelitiannya skripsi ya? Aduh teringat lagi deh).

    Sedikit canggung kurasakan ketika mulai memasuki ruang seminar. Kufokuskan mata untuk mencari kerumunan naga yang biasanya paling gampang ditemukan di keramaian (ya iyyalah, namanya juga naga, napasnya bau, jadi gampang terdeteksi). Tidak sampai semenit dan saya sudah bisa memahami tata letak para peserta seminar. Di sudut kiri, di penuhi oleh panitia dan pengurus, serta beberapa senior yang masih merasa muda. Kubu tengah di tempati oleh masyarakat umum (mahasiswa dan ada juga beberapa wartawan senior abangnya KOSMIK) dan di deret terdepan (yang ada cocacola dan ades nya) disediakan kursi untuk para pemateri beserta moderatornya. Nah di bagian kiri ini yang sangat familiar denganku, Rusher dan kanda-kanda tercinta. Ada satu orang yang menarik perhatianku. Kanda Riza Darmaputra. Rambutnya disisir dan pakaiannya rapi, sudah siap mendampingi para pemateri. Dia tampan hari itu…

    Materi awal dibawakan oleh Kanda Mulyadi Mau, A. Makmur Makka, Kanda Arkam Azikin, dan Pak Azwar didamping si tampan kanda Riza. K' Mul mengawali dengan materi media watch, media literacy dan beberapa undang-undang penyiaran, pak Makmur membawa materi tentang kegiatan habibie centre sebagai media watch, pak Azwar dengan beberapa data dan fakta tentang masyarakat pengkonsumsi media serta fungsi KPID yang beralih yang seharusnya jadi wasit tapi diperlakukan seperti hakim garis, dan k' arkam dengan segala kritiknya tentang perfilman Indonesia, khususnya film-film yang disutradarai Riri Riza, khususnya AADC. Maaf ya kalau ada yang kurang dari materi yang disebutkan soalnya euforia waktu ketemu anak-anak dan kanda-kanda yang sudah jarang terlihat di kampus sempat beberapa kali mengalihkan konsentrasiku.

    Beberapa menit setelah jarum jam menunjukkan angka 1, Riri Riza memulai materinya yang menurutku lebih banyak berisi serangan balasan untuk k Arkam. Maklumlah, soalnya di sesi sebelumnya beliau mendapatkan beberapa kritikan yang cukup pedas. Kasian juga, kami mengundang Riri untuk berdiskusi tentang film dan hubungannya dengan pendidikan. Ini diskusi, kita bertukar pikiran, bukannya memaksakan pikiran-pikiran kita untuk diterima oleh orang lain dengan mengambil kesimpulan sepihak. Wajarlah, pendekatan yang diambil adalah pendekatan cultural dan agama, kata k' patang. Saya juga tidak terlalu kritis, tapi menurutku itu terlalu ekstrim dan dangkal.

    Perdebatan di ruang seminar semakin menghangat apalagi para peserta tidak mau kalah dengan para pemateri yang saling beradu pendapat, mereka juga dengan kritisnya melontarkan pertanyaan-pertanyaan. Sejauh yang saya tangkap (soalnya beberapa kali saya ke luar ruangan), pertanyaannya berkisar di masalah sensor. Waduh asiknya…

    Tapi peserta dan panitia mulai ribut ketika Riri mengakhiri materinya dan turun dari panggung. Dwi paling depan, misinya adalah untuk menorehkan tanda tangan Riri di buku Laskar Pelanginya. Diikuti beberapa fotografer yang gila foto (termasuk diriku, hehe ) yang berebut duet foto dengan Riri. Dwi menyebut hari ini sebagai pencapaian tertinggi bagi kami berdua yang berhasil menjalankan misi.

    Hanya samapai disitukah kekacauan yang ditimbulkan anak naga? Beralih ke acara lomba mading yang diikuti oleh tiga SMU terkemuka di Makassar. Kami menyebutnya mamamia versi madding yang menghadirkan komentator, mama dwi, mama darma, dan mama ema. Mereka memberi komentar-komentar yang akhirnya memicu perdebatan di internal mereka sendiri, dasar naga, da ada yang mau kalah. Untunglah ada taro dan madi yang melawak juga kami yang siap sedia men-calla mereka. Anakda uchenk juga hadir memriahkan suasana. Dengan wajahnya yang tampan dan suaranya yang melengking, dia berhasil mengacaukan penjurian. Kacau!!!

     Pengumuman:

    Panitia kehilangan beberapa gelas cocacola yang digunakan sebagai property acara. Bagi yang menemukan atau tidak sengaja mengambilnya, tolong segera dikembalikan pada panitia. Atas perhatian dan kejujurannya, kami ucapkan terima kasih.

    Serempak wajahku, dwi, darma, icha, dan wuri memerah. Pikiran kami barang-barang itu adalah pemberian dari sponsor jadi apa salahnya diambil. Tapi menurut Himas itu adalah property milik seseorang diangkatan 07 dan taro juga ikut-ikutan melarang. Sayup-sayup terdengar k Rahe meneriakkan namaku.Aiiih malunyaaaa…Tapi kata Dwi, tenang, jangan panic. Kita bertindak seakan tidak ada apa-apa. Saya dan Dwi memutuskan mengembalikannya. Kami pun keluar-masuk ruangan, bingung memutuskan bagaimana cara mengembalikan gelas-gelas itu tanpa ketahuan. Pelan-pelan kami duduk di lantai belakang kursi peserta di sebelah taro, menaruh semua barang bukti di situ, lalu kabur. Tak lama kemudian wuri keluar ruangan sambil ngomel-ngomel karena harus mengembalikan barang 'itu', darma juga kalah oleh bujukan taro. Cuma icha yang bertahan tidak mau ikut-ikutan aksi kami. Dia berkeras kalau itu hadiah adari sponsor, jadi tidak apa-apa kalau diambil. Ya sudahlah, kami cuma tidak mau cari masalah. Tua maki'.

    Kami lalu menapak jalan menuju pasar. Kami berencana melanjutkan diskusi tentang gelas, k'Arkam vs Riri, dan pencapain tertinggi bersama k'Rahe, k' Bento, dan Kika. Ternyata mace di pasar merindukan kami. Seharian dia kesepian karena tidak mendengar suara-suara fals kami. Kami juga merindukanmu mace, kami lapar…


    Posted at 12:12 pm by elektrakid
    Comment (1)  

     
    Apr 22, 2008
    Akankah rindu ini terobati

    Yang tlah pergi akhirnya kembali. Tapi hati ini tak sanggup menyambut kedatangan yang terkasih. Hatinya bukan untukku lagi

    Adakah setiap kenangan tentangku masih menempati ruang di hatinya?
    Atau ruang itu sudah dibuangnya jauh dan terganti oleh seseorang yang lebih baik?

    Rindu ini merasuk jiwaku.
    Sekarang aku mengerti dengan kata-kata seorang kawan,

    Neraka itu sebeanarnya bukanlah tempat di mana kita akan disiksa oleh cambuk dan bara api. Neraka yang sebenarnya adalah 'rindu'. Derita yang paling menyiksa adalah ketika kita merindukan seseorang yang kita kasihi. Karenanya di alam lain setelah dunia di mana kaki kita berpijak ini, kita akan dimasukkan dalam neraka yang berbentuk kerinduan, kerinduan akan kasih-Nya yang tercinta. Lebih…lebih menyakitkan dari segala sakit fisik yang pernah kita rasakan.

     
    Akankah rindu ini terobati? Mungkin tidak, aku pun tak berani berharap lagi.


    Posted at 05:26 pm by elektrakid
    Make a comment  

    Next Page